PRAKTIKUM KPKT ACARA V : PROBLEMATIKA KESUBURAN TANAH DI SEKITAR TEMPAT TINGGAL
OUTPUT PRAKTIKUM
KESUBURAN, PEMUPUKAN, DAN KESEHATAN TANAH
ACARA V
PROBLEMATIKA KESUBURAN TANAH DI SEKITAR TEMPAT TINGGAL
Oleh : Indri Atania br Kemit_18/427783/PN/15563_Golongan B3
Secara umum, tanah merupakan media bagi tumbuhan untuk dapat bertumbuh dan berkembang. Tanah dapat berfungsi sebagai penyedia unsur hara, tempat penyimpanan air, dan tempat melekatnya akar tanaman. Meskipun demikian, tak jarang juga para petani mengalami masalah kesuburan tanah. Menurut Handayanto et al. (2017), pada umumnya tanah memasok 13 dari 16 unsur hara esensial yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, terutama tanaman pangan. Unsur hara esensial tersebut harus terus-menerus tersedia dalam takaran yang berimbang. Namun demikian, hal ini tidak selalu terjadi pada semua jenis tanah. Beberapa tanah tertentu yang tidak dapat memenuhi tujuan tersebut disebut sebagai tanah tidak subur. Sebaliknya, ada beberapa tanah yang dapat memenuhi tujuan tersebut disebut tanah subur. Oleh karena itu, kesuburan tanah adalah aspek hubungan tanah-tanaman, yaitu pertumbuhan tanaman dalam hubungannya dengan unsur hara yang tersedia dalam tanah.
Praktikum mandiri Kesuburan, Pemupukan, dan Kesehatan Tanah Acara 5 dengan judul "Problematika Kesuburan Tanah di Sekitar Tempat Tinggal" ini dilaksanakan pada hari Rabu, 14 Oktober 2020 di Desa Tigapanah, Kab. Karo, Sumatera Utara. Praktikum ini dilakukan dengan metode wawancara petani. Pada praktikum ini saya mewawancarai seorang petani muda, yaitu Perangin-Angin (23 thn). Perangin-Angin ini adalah seorang mahasiswa tingkat akhir. Namun, selama pandemi Perangin-Angin menjadikan petani sebagai pekerjaan sampingannya. Ia menggarap lahan milik ayahnya seluas 2500 m2. Komoditas yang ditanam oleh Perangin-Angin ini adalah Tomat Marvel F1. Tomat Marvel biasa digunakan sebagai bahan baku pembuatan saus. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh hasil sebagai berikut :
a. Altitude : 1192 mdpl
b. Fisiografi : pegunungan
c. Topografi : berbukit
d. Kedalaman air tanah : > 700 cm
e. Landuse : tegalan
f. Jarak tanam : 75 x 140 cm
g. Pupuk organik : Trichoderma dan kompos
h. Pupuk anorganik : Pupuk NPK, ZA, dan TSP
i. Pola tanam : Tumpang sari (cabai merah keriting)
Lahan yang dikelola Perangin-Angin ini terletak di dataran tinggi Karo yang terkenal dengan daerah pertanian yang memiliki tanah yang subur. Pengolahan lahan yang dilakukan oleh Perangin-Angin yaitu minimum tillage. Menurut Gomes (2016), pengolahan tanah secara minimal (minimum tillage) yaitu dengan membersihkan lahan yang diikuti dengan pengolahan tanah hanya pada barisan yang akan ditanam. Pengolahan ini disamping untuk memperoleh tanah yang gembur, juga bertujuan untuk meratakan dan memperbaiki sifat-sifat disik dan kimia tanah. Menurut Carter (2005) cit. Awe et al. (2020) minimum tillage dianjurkan untuk memulihkan struktur tanah yang rusak, mengendalikan erosi dan mengembalikan bahan organik yang hilang yang disebabkan oleh pengolahan tanah konvensional.
Pola tanam di lahan ini yaitu tumpang sari tomat marvel dengan cabai merah keriting. Tumpang sari ini dilakukan untuk mengoptimalkan lahan dan menambah pendapatan dari hasil produksi tanaman. Selain itu, menurut Sastrodihardjo (1994) cit. Pasetriyani (2012), sistem tumpang sari cabai + tomat diharapkan dapat bertindak sebagai barier dan dan bersifat repellent bagi Thrips dan Myzus, karena tanaman tomat menghasilkan metabolit sekunder yang tidak disukai oleh hama cabai tersebut. Menurut Bakar & Norman (1975) cit. Karo et al.(2018) pertanaman tumpang sari dapat meningkatkan hasil sampai 62%. Keberhasilan tumpang sari sangat ditentukan oleh kombinasi jenis-jenis tanaman penyusun. Meinarti & Jauhari (2008) cit. Karo et al .(2018) menyatakan pertanaman tumpang sari tomat dan cabai menunjukkan bahwa tanaman cabai tidak nyata mengganggu produktivitas tomat dibandingkan dengan produktivitas tomat monokultur, bahkan rata-rata hasil buah tomat yang rusak cenderung berkurang dibandingkan dengan hasil monokultur. Menurut Setiawati & Saetarso (2008) cit. Karo et al. (2018), tumpang sari antara cabai merah dengan tomat dapat menekan populasi B. tabaci sebesar 25,74% dibanding dengan sistem tanam monokultur.
Permasalahan yang dialami oleh Perangin-Angin bukan pada tanahnya, namun pada topografi yang berbukit. Topografi berbukit ini menjadikan lahannya cenderung miring yang membuat tomat yang berada dibagian bawah cenderung lebih subur dibandingkan dengan tanaman tomat yang berada di bagian atas. Hal ini disebabkan oleh pupuk yang terbawa oleh air hujan. Hal ini sesuai dengan pendapat Mustafa (2004) cit. Dewa et al. (2016) yang menyatakan pada lahan berbukit faktor kekurangan unsur hara yang disebabkan dari hilangnya pupuk akibat erosi, atau hilang karena tercuci air hujan lebih besar sehingga berpengaruh terhadap produktivitas dan pertumbuhan tanaman. Adapun solusi yang dapat dilakukan untuk mengendalikan erosi yaitu dengan cara memotong lereng. Menurut Suganda et al. (2009) cit. Henny et al. (2011), penanaman pada guludan dengan memotong lereng (searah kontur) dapat mengendalikan erosi dan tidak menurunkan hasil.
DAFTAR PUSTAKA
Dewa, W., S.M. Rohmiyati, dan I.S. Santi. 2016. Produktivitas tanaman kelapa sawit pada topografi yang berbeda di langga payung estate, PT. Tapian Nadenggan, Kab. Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Jurnal Agromast 1(2): 1-11.
Gomes, J.D. 2016. Petunjuk Praktis Budidaya Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) dan Proses Pengolahan Minyak. Universitas Brawijaya Press, Malang.
Handayanto, E., N. Muddarisna, A. Fiqri. 2017. Pengelolaan Kesuburan Tanah. Universitas Brawijaya Press, Malang.
Henny, H., K. Murtilaksono, N.Sinukaban, dan S.D. Tarigan. 2011. Erosi dan kehilangan hara pada pertanaman kentang dengan beberapa sistem guludan pada andisol di hulu DAS Merao, Kabupaten Kerinci, Jambi. Jurnal Solum 8(2): 43-52.
Karo, B.B., A.E. Marpaung, dan D. Musaddad. 2018. Sistem tanam tumpang sari cabai merah dengan kentang, bawang merah, dan buncis tegak. Jurnal Hortikultura 28(2): 219-228.
Pasetriyani, E.T. 2012. Pengaruh tumpang sari cabai+tomat dan mulsa plastik hitam perak terhadap perkembangan vektor virus, insiden serangan virus, dan hasil tanaman cabai (Capsicum annum) di lapangan. Jurnal Pertanian 3(1): 59-63.


Komentar
Posting Komentar